PENDAMPINGAN MONITORING PELAKSANAAN SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PENYAKIT DAN FAKTOR RESIKO LINGKUNGAN TEMUAN KASUS LEGIONELLOSIS DI KOTA BATAM

(Batam, 12 Juni 2025) Balai Labkesmas Batam melaksanakan tugas dan fungsinya untuk mendukung upaya pencegahan dan pengendalian penyakit salah satunya adalah legionellosis  Legionellosis merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Legionella spp dan dapat menyebabkan dua bentuk klinis, yaitu Legionnaires’ Disease (berat) dan Pontiac Fever (ringan). Penularan umumnya terjadi melalui inhalasi uap air atau aerosol yang terkontaminasi Legionella, terutama dari sistem air buatan seperti menara pendingin (cooling tower), shower, kolam air panas, dan instalasi air lainnya. Penyakit ini termasuk dalam kelompok Sindrom Penyakit Infeksi Emerging (PIE) yaitu sindrom pernapasan akut berat yang memerlukan kewaspadaan dan respon, terutama jika terjadi peningkatan jumlah kasus dalam waktu dan wilayah tertentu.

Provinsi Kepulauan Riau telah melaporkan adanya kasus suspek legionellosis sejak Januari hingga Juni 2025 sebanyak 25 kasus suspek legionellosis, dengan 16 kasus dikonfirmasi positif legionellosis melalui pemeriksaan laboratorium. Kasus-kasus ini tersebar di empat kecamatan dan sepuluh kelurahan di wilayah Kota Batam. Hal ini mengindikasikan potensi terjadinya penyebaran dan sumber paparan lingkungan yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Bersama Tim Kerja Respon KLB Direktorat Surveilans & Kekarantinaan Kesehatan-Ditjen P2P Kemenkes dan Tim Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Batam, Tim Surveilans Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau, serta Tim Surveilans Dinas Kesehatan Kota Batam melakukan penyelidikan epidemiologi secara terkoordinasi. Kegiatan ini dilakukan selama 10-12 Juni 2025 pada tiga wilayah kerja puskesmas yaitu Puskesmas Batu Aji, Puskesmas Sekupang dan Puskesmas Sei Lekop.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui sumber penularan, faktor risiko lingkungan, pola penyebaran kasus, serta menetapkan langkah-langkah pengendalian yang tepat untuk mencegah meluasnya penyakit. Penyelidikan ini menjadi bagian penting dalam sistem kewaspadaan dini dan respons (SKDR) terhadap penyakit menular potensial wabah serta sebagai bentuk implementasi nyata dari kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi penyakit infeksi emerging.