Workshop Hands-On ‘Teknik Uji ResistensiNyamuksecara CDC Bottle  Bioassay  dan Impregnated Paper sertaStrategiPengendalianVektor’

Batam, 22 Agustus 2026 – Penggunaan pestisida dalam pengendalian organisme pengganggu dan vektor penyakit masih menjadi salah satu metode yang banyak diterapkan, baik di sektor kesehatan, pertanian, rumah tangga, maupun lingkungan permukiman. Pestisida digunakan untuk mengendalikan berbagai organisme, seperti nyamuk, lalat, kecoak, tikus, dan hewan lain yang berpotensi menjadi vektor atau reservoir penyakit.

Namun, penggunaan pestisida yang tidak tepat dapat menimbulkan permasalahan jangka panjang. Penggunaan dengan dosis yang tidak sesuai, frekuensi aplikasi yang terlalu tinggi, serta penggunaan bahan aktif atau golongan pestisida yang sama secara berulang dapat memberikan tekanan seleksi terhadap populasi sasaran. Individu yang mampu bertahan terhadap paparan pestisida akan tetap hidup dan berkembang biak, sehingga secara bertahap dapat terbentuk populasi yang memiliki tingkat ketahanan lebih tinggi terhadap pestisida.

Kondisi tersebut dikenal sebagai resistensi pestisida. Resistensi menjadi salah satu tantangan penting dalam pengendalian vektor karena dapat menyebabkan menurunnya efektivitas pengendalian, meningkatnya penggunaan bahan kimia, bertambahnya biaya pengendalian, dan meningkatnya risiko terhadap kesehatan masyarakat.

Sumber Paparan dan Golongan Pestisida Organisme vektor dan reservoir dapat terpapar pestisida dari berbagai sumber. Paparan tersebut dapat berasal dari kegiatan pertanian, pengendalian vektor kesehatan, penggunaan pestisida rumah tangga, maupun kegiatan industri.

Beberapa golongan pestisida yang digunakan dalam pengendalian antara lain organofosfat, karbamat, piretroid, organoklorin, neonicotinoid, serta rodentisida. Pada lingkungan rumah tangga, golongan piretroid banyak digunakan dalam produk pengendalian nyamuk.

Paparan pestisida dari berbagai sumber dapat meningkatkan tekanan seleksi terhadap populasi organisme sasaran. Oleh karena itu, penggunaan pestisida perlu mempertimbangkan riwayat penggunaan bahan aktif dan mekanisme kerjanya agar risiko perkembangan resistensi dapat diminimalkan.

Mekanisme Resistensi

Resistensi pestisida dapat terjadi melalui beberapa mekanisme. Mekanisme tersebut meliputi perubahan perilaku, penebalan kutikula, mutasi pada target kerja insektisida, dan peningkatan proses metabolisme atau detoksifikasi.

Pengujian dan Deteksi Resistensi

Monitoring resistensi merupakan bagian penting dalam pengendalian vektor. Beberapa metode yang digunakan untuk menguji resistensi pada nyamuk dewasa antara lain metode WHO Impregnated Paper, CDC Bottle Bioassay, WHO Bottle Bioassay, pengujian aktivitas enzim metabolik, serta pemeriksaan molekuler untuk mendeteksi mutasi pada target-site.

Metode WHO Impregnated Paper menggunakan kertas yang telah diberi insektisida dengan konsentrasi tertentu. Metode ini telah terstandardisasi, tetapi memiliki beberapa keterbatasan, antara lain kebutuhan nyamuk uji yang lebih banyak, waktu paparan dan pengamatan yang lebih lama, serta ketersediaan kertas impregnasi yang tidak selalu mencakup semua jenis insektisida.

CDC Bottle Bioassay memiliki beberapa kelebihan, seperti membutuhkan jumlah nyamuk yang lebih sedikit, aplikasi yang lebih cepat, dan dapat digunakan untuk mengetahui keterlibatan mekanisme resistensi metabolik melalui penggunaan zat sinergis. Namun, metode ini juga memiliki keterbatasan, termasuk proses pelapisan insektisida pada botol yang dapat bervariasi dan belum tersedianya dosis serta waktu diagnostik untuk semua jenis insektisida.

Penggunaan zat sinergis dapat membantu mengidentifikasi mekanisme resistensi metabolik. Contohnya, piperonyl butoxide atau PBO digunakan untuk menghambat enzim oxidase. Apabila resistensi berkurang atau hilang setelah penggunaan sinergis, hal tersebut menunjukkan bahwa mekanisme enzim yang dihambat kemungkinan berperan dalam resistensi populasi tersebut.